Alamat

Nama: Ridwan Sururi, S.Pd.I. Alamat: Jl. Pesantren Mathla'ul Falah no 412. Sindang Anom Kec. Sekampung Udik Kab. Lampung Timur. email. abu.hanan17@gmail.com. Facebook. Ridwan Sururi. HP. 085233552224

Jumat, 14 Juni 2013

PROPOSAL TESIS IAIN LAMPUNG. SHALAT DAN PENGARUHNYA DALAM MEMBENTUK AKHAQUL KARIMAH (Suatu Tinjauan Kependidikan). RIDWAN SURURI SEKAMPUNG UDIK LAMPUNG TIMUR


SHALAT DAN PENGARUHNYA DALAM MEMBENTUK AKHAQUL KARIMAH
(Suatu Tinjauan Kependidikan)


PROPOSAL TESIS

Diajukan Kepada Program Pascasarjana
Institut Agama Islam Negeri Raden Intan Lampung
Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Magister
Dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam

1.        Riduan Sururi / 1222010030
2.        Syaifuddin / 1222010032
3.        Sunarsih / 1222010031

Pembimbing : Prof. Dr. IDHAM KHOLID, M.Ag



 









PROGRAM STUDI ILMU TARBIYAH
KONSENTRASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
PROGRAM PASCA SARJANA (PPs)
IAIN RADEN INTAN LAMPUNG
1434 H / 2013 M
KATA PENGANTAR
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang telah memberikan taufiq, hidayah serta inayahnya kepada penulis sehingga penulis dalam menyelesaikan proposal penelitian ini bisa berjalan tanpa adanya hambatan yang di luar kemampuan.
Shalawat beserta salam tercurahkan kepada Nabi agung kita Muhammad SAW, yang telah membawa risalah dari Tuhan terutama Nabi yang telah menunjukkan Mu’jizatnya yang berupa Al-Qur’an, yang dengannya bisa kita peroleh petunjuk dan segala macam ilmu.
Penyusunan proposal ini adalah merupakan bagian dari persyaratan untuk penulisan tesis dalam rangka menyelesaikan pendidikan program pasca sarjana (S2) Jurusan Tarbiyah IAIN Raden Intan Bandar Lampung guna memperoleh gelar Pasca Sarjana Pendidikan Agama Islam.
Penyelesaian proposal ini, penulis telah banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menghaturkan terima kasih kepada:
1.      Bp. Dr. Mukri, MA selaku rektor IAIN Raden Intan Bandar Lampung.
2.      Prof. Dr. IDHAM KHOLID, M.Ag selaku Pembimbing I.
3.      Segenap civitas akademika IAIN Raden Intan Bandar Lampung.
4.      Ayah bunda yang senantiasa mendo’akan dan memerikan dukungan.
5.      Teman-temanku yang saya sayangi yang telah mendukung dan Memotivasi.

Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan proposal ini, karena keterbatasan kemampuan yang penulis miliki. Saran dan kritik yang konstruktif sangat penulis harapkan guna penyempurnaan proposal ini. Akhirnya penulis berharap, proposal penelitian ini semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiin.
Cukup sekian dari penulis…..
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
        Bandar Lampung, 01 Juni  2013
Penulis,
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..........................................................................................
KATA PENGANTAR........................................................................................ ii
DAFTAR ISI....................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................. 1
A.    Latar Belakang Masalah.................................................................... 1
B.     Fokus Masalah................................................................................... 3
1.      Identifikasi Masalah ...................................................................  3
2.      Batasan Masalah ......................................................................... 3
3.      Rumusan Masalah ......................................................................  3
C.     Tujuan dan Manfaat Penelitian.......................................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................ 5
A.    Pengertian Shalat............................................................................... 5
1.      Dasar dan Tujuan Shalat........................................................ 6
2.      Syarat dan Tujuan Shalat....................................................... 7
3.      Waktu Pelaksanaan Shalat Fardlu......................................... 8
B.     Pengertian Akhlakul Karimah ...........................................................  9
1.      Ciri-ciri Akhlakul Karimah.................................................... 11
2.      Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlakul Karimah     12
BAB III  METODOLOGI PENELITIAN ........................................................  14
A.    Prosedur Penelitian............................................................................ 14
B.     Sumber Data .....................................................................................  14
C.     Tehnik Pengumpulan Data ................................................................  14
D.    Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data................................................ 15
E.     Metode Analisis dan Penafsiran Data ..............................................  16
DAFTAR PUSTAKA
OUT LINE


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Tujuan yang pokok Allah menciptakan Manusia adalah agar mereka beribadah semata-mata kepada Allah SWT. Ubudiyah ini mengandung pengertian ikhlas kepada Allah dalam niat, perkataan, perbuatan, tunduk dan patuh kepada ketentuan Allah serta mengikuti jalannya. Dan salah satu ibadah yang terpenting lagi utama adalah shalat, ibadah shalat merupakan salah satu bentuk ibadah yang menempati urutan yang terpenting dan utama dari serangkaian kewajiban yang di berikan Allah terhadap umat Islam. Tidak ada cara untuk memohon atau menyampaikan kebutuhan-kebutuhan kepada Allah seperti halnya dengan shalat, karena bencana-bencana besar yang terhindar dari orang-orang terdahulu itu hanya dengan shalat serta jarang sekali orang yang di timpa bencana melainkan usaha untuk menghindarkannya dengan mengerjakan shalat.[1]
Melalui pelaksanaan ibadah shalat secara kontinue dari waktu kewaktu yang telah di tentukan batasnya di harapkan akan selalu ingat kepada Allah, sehingga dalam melakukan segala aktivitas akan terasa diawasi dan di perhatikan oleh dzat yang maha mengetahui, maha melihat, dan maha mendengar. Konsekwensinya adalah terhindar dari melakukan segala perbuatan yang bertentangan dengan Islam. Shalat tidak hanya mengandung nilai ubudiah semata akan tetapi shalat juga mengandung hubungan baik dengan sesama makhluq Allah lainnya. Setiap Muslim di tuntut untuk merealisasikan dalam bentuk prilaku kehidupan, seperti yang di kehendaki oleh Allah dalam firmannya :
.......  žcÎ) no4qn=¢Á9$# 4sS÷Zs? ÇÆtã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍s3ZßJø9$#ur ........ ( العنكبوت 45 ).
ِArtinya : .......Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar......[2]
Ayat tersebut mengandung pengertian bahwa kerjakanlah shalat secara sempurna seraya mengharapkan keridhoannya dan kembali kepadanya dengan khusyu’ serta merendahkan diri. Sebab jika shalat dikerjakan dengan cara demikian maka ia akan mencegah dari perbuatan kekejian dan kemunkaran. Shalat yang di kehendaki Islam bukanlah semata-mata sejumlah bacaan yang diucapkan oleh lisan, sejumlah gerakan yang dilakukan oleh anggota badan tanpa di sertai kesadaran akan kekhusyu’an hati. Tetapi shalat yang diterima adalah shalat yang terpenuhi ketentuan-ketentuannya berupa perhatian fikirannya, kedudukan hatinya dan kehadiran keagungan seakan-akan berada di hadapannya. Sebab tujuan utama dari shalat adalah agar Manusia selalu mengingat Tuhannya yang maha tinggi.
Dari uraian tersebut di atas, maka shalat sebagai ibadah yang memiliki nilai edukatif yang tinggi dan luas. Dalam hal ini shalat mempunyai daya penunjang yaitu penunjang bagi kesehatan mental seorang Mukmin untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan kejahatan, menjauhi fakhsa’ dan munkar, mengurangi kelesuan di saat menderita, kesulitan dan keangkuhan di saat memperoleh nikmat. Shalat akan menanamkan dalam hati kesadaran adanya kontrol Illahi, memelihara aturannya, menjaga kedisiplinan waktu, takut akan siksaan dan ancamannya serta sanggup mengalahkan sifat-sifat kelemahan Manusia lainnya.
Begitu tinggi dan luasnya makna shalat yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah shalat, maka muncullah inspirasi dari penyusun untuk membuat tesis ini dengan judul “SHALAT DAN PENGARUHNYA DALAM MEMBENTUK AKHLAKUL KARIMAH (Suatu Tinjauan Kependidikan).

B. Fokus Masalah
1.      Identifikasi Masalah
Shalat adalah suatu ibadah mahdhoh yang di wajibkan oleh Allah SWT sebagai cara untuk mencegah dari perbuatan keji dan munkar serta cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena barang siapa yang shalatnya tidak mendorong dirinya untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, maka ia tidak bertambah hubungannya dengan Allah melainkan malah bertambah jauh.[3]
2.      Batasan Masalah
Untuk menghemat waktu dan biaya, maka dalam penyusunan tesis ini perlu penulis berikan batasan-batasan dalam penelitian yaitu: Shalat yang dimaksud adalah shalat fardlu saja.
3.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat di fokuskan sebagai berikut:  “Shalat yang bagaimanakah yang dapat membentuk akhlakul karimah”
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
  1. Tujuan Penelitian
a.       Untuk mengetahui kriteria shalat yang dapat membentuk akhlakul karimah.
b.      Menjelaskan tentang beberapa hal yang berkaitan tentang pelaksanaan shalat.
c.       Mengetahui beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pembentukan akhlakul karimah.
  1. Manfaat Penelitian
a.       Secara teoritis penelitian ini berguna sebagai sumbangsih pemikiran atau input yang dapat memperkaya informasi dalam rangka meningkatkan ibadah shalat dan hubungannya dengan pembentukan akhlakul karimah.
b.      Secara praktis penelitian ini berguna sebagai paparan yang mendiskripsikan betapa besar dan kuatnya pengaruh shalat terhadap pribadi seorang Muslim dan memberikan pemikiran tentang pentingnya shalat.
c.       Di harapkan dapat berguna bagi kepentingan umum baik di dalam pelaksanaan ibadah shalat maupun dalam merealisasikan ahklaq mulia dalam kehidupan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Pengertian Shalat
Shalat menurut arti bahasa adalah “Do’a”. Allah berfirman :
Èe@|¹ur….. öNÎgøn=tæ ( ¨bÎ) y7s?4qn=|¹ Ö`s3y öNçl°; …….. ( التوبة 103 ). 
Artinya : “…..Dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka……….”.[4]
Sedangkan menurut arti syara’ shalat ialah : Beberapa ucapan dan perbuatan tertentu yang di awali dengan takbir dan di akhiri dengan salam.[5] Menurut Sulaiman Rasyid shalat adalah Ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang di mulai dengan takbir dan di sudahi dengan salam, serta memenuhi beberapa syarat yang di tentukan.[6]
Dari beberapa pendapat di atas dapat di pahami bahwa shalat merupakan bentuk perkataan dan perbuatan yang di mulai dengan takbir dan di sudahi dengan salam dengan ketentuan atau syarat-syarat tertentu. Shalat adalah bentuk yang luhur sejak dahulu kala dan syari’at yang di miliki oleh setiap agama pada umumnya.
Dengan demikian dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa shalat adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh ummat  sebagaimana perintahnya. Dan shalat pun merupakan ibadah yang agung dan barang siapa yang melaksanakannya dengan sempurna dan sungguh-sungguh maka akan menimbulkan dampak shalat dan hasil tujuannya ialah sesuatu yang di berikan kepada hambanya yakni dapat mencegah diri dari perbuatan yang keji dan munkar.

1. Dasar dan Tujuan Shalat
            Shalat yang di fardhukan atas Orang  menurut kaifiyah (kelakuan) yang telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW dan telah sampai kepada umatnya dengan jalan mutawatir, merupakan upacara yang utama yang dilakukan untuk menerangkan hajat pada Tuhan yang di sembah dan rasa kebesaran  Allah SWT, yang mempengaruhi jiwa. Dasar pelaksanaanya banyak terdapat dalam Al-Qur’an, antara lain :
(#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qx.¨9$# (#qãèx.ö$#ur yìtB tûüÏèÏ.º§9$#. (البقرة 43).  

Artinya : “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta Orang-Orang yang rukuk”.[7]
ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ( žcÎ) no4qn=¢Á9$# 4sS÷Zs? ÇÆtã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍s3ZßJø9$#ur 3 ( العنكبوت 45).
Artinya : “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar”.[8]
(#qÝàÏÿ»ym n?tã ÏNºuqn=¢Á9$# Ío4qn=¢Á9$#ur 4sÜóâqø9$# (#qãBqè%ur ¬! tûüÏFÏY»s% . (  البقرة 238 ).
Artinya : “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa Berdirilah untuk  (dalam shalatmu) dengan khusyuk”.[9]

Shalat merupakan bagian dari ibadah mahdhah yang mempunyai tujuan pokok. Tujuan pokok ibadah adalah menghadap dzat tunggal yang di sembah. Maka shalat asal disyaratkannya ialah tunduk kepada  Allah dengan ikhlas menghadap kepadanya, meletakkan diri sebagai hamba yang rendah dan kecil di hadapannya dengan mengingatkan jiwa agar selalu ingat kepada.

2. Syarat dan Tujuan Shalat
            Menurut Aliy As’ad yang di maksud syarat adalah sesuatu tempat tergantung syahnya shalat namun bukan merupakan bagiannya, pembahasan syarat lebih sesuai di dahulukan dari pada pembahasan rukun sebab syarat wajib di penuhi dahulu sebelum shalat dan tetap terpenuhi selama shalat.[10] Sebagaimana di ketahui bahwa shalat fardlu itu ada syarat-syarat tertentu dan rukun yang harus dilaksanakan, di antara syarat sahnya shalat adalah sebagai berikut:[11]
  1. Sucinya anggota tubuh dari hadats
  2. Menutup aurat
  3. Berada di tempat yang suci
  4. Mengetahui masuknya waktu shalat
  5. Menghadap kiblat

Kesalahan yang terjadi dalam menerapkan aturan shalat bisa saja mengakibatkan batalnya shalat. Selanjutnya dalam pelaksanaan yang harus dilakukan pertama kali yaitu memenuhi segala bentuk persyaratan sebelum masuk shalat seperti keterangan di atas, dan setelah itu baru di mulai untuk melaksanakan beberapa rangkaian rukun-rukun shalat.[12]
Tujuan shalat sebagai sarana pendidikan budi luhur dan pri-kemanusiaan di lambangkan dalam ucapan salam sebagai penutup komunikasi dengan Allah SWT. Ucapan salam adalah permohonan untuk keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan Orang banyak, baik yang ada di depan kita ataupun tidak dan ucapan sebagai pernyataan kemanusiaan serta solidaritas sosial. Dengan demikian shalat di awali dengan takbir sebagai pernyataan hubungan dengan  Allah dan di akhiri dengan salam sebagai pernyataan hubungan dengan sesama Manusia.

3. Waktu Pelaksanaan Shalat Fardlu
Sebagaimana di ketahui bahwa shalat fardlu mempunyai waktu-waktu yang telah di tentukan. Firman  Allah dalam Al-Qur’an sebagai berikut :
 ¨bÎ) no4qn=¢Á9$# ôMtR%x. n?tã šúüÏZÏB÷sßJø9$# $Y7»tFÏ. $Y?qè%öq¨B ÇÊÉÌÈ   ( النساء  102 ).

Artinya : “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang di tentukan waktunya atas Orang-Orang yang beriman”.[13]
            Shalat yang fardlu atau wajib di laksanakan oleh tiap-tiap Mukallaf ialah lima kali sehari semalam, adapun waktunya adalah sebagai berikut :
  1. Shalat Dluhur, awal waktunya adalah setelah tergelincir matahari dari pertengahan langit, akhir waktunya apabila bayang-bayang sesuatu telah sama dengan panjangnya selain dari bayang-bayang ketika matahari menonggak (tepat di atas ubun-ubun).
  2. Shalat Ashar, waktunya mulai dari habisnya waktu dhuhur, bayang-bayang sesuatu lebih dari pada panjangnya selain dari bayang-bayang ketika matahari sedang menonggak sampai terbenam matahari.
  3. Shalat Maghrib waktunya dari terbenam matahari sampai terbenam syafaq (mega merah).
  4. Shalat Isya’, waktunya mulai dari terbenam syafaq merah (sehabis waktu Maghrib) sampai terbit fajar kedua.
  5. Shalat Shubuh, waktunya mulai dari terbit fajar kedua sampai terbit matahari.

B. Pengertian Akhlakul Karimah
Kata akhlak berasal dari bahasa arab, yang jama’nya dari “Khulukun” yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabi’at”.[14] Menurut Zahara Maskamah dan Tayar Yusuf pengertian akhlak adalah “Hal ihwal atau sesuatu tingkah laku yang dengannya jiwa seseorang mampu menimbulkan dorongan kebaikan, keburukan, maka akhlak itu sebenarnya adalah gambaran dari jiwa yang tersembunyi”.[15]
Dari definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah tingkah laku seseorang yang dapat menimbulkan kebaikan dan keburukan. Pribadi  secara umum mempunyai unsur jiwa dan raga yang keduanya merupakan kesatuan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya dan tidak dapat terlepaskan. Penjelasan lain menyuguhkan konsep bahwa “Manusia itu memiliki tiga dimensi yaitu akal, badan dan ruh”.[16]

            Menurut Nahjudin akhlak itu terbagi menjadi dua macam yaitu akhlak baik dan akhlak buruk.[17] Sedangkan dalam buku Etika Islam, pembinaan akhlakul karimah yang ditulis oleh Hamzah Ya’kub dikatakan bahwa pembagian akhlak dapat dilihat pada batasan dari macam-macam akhlak yaitu:
  1. Akhlakul karimah (Mahmudah) adalah segala tingkah laku yang terpuji yang biasa juga dinamakan fadilah (kelebihan), Imam Ghozali menggunakan istilah ini dengan perkataan “munjiyat” yang berarti segala sesuatu yang memberikan kemenangan atau kejayaan.
  2. Akhlakul Mazdmumah yang berarti tingkah laku yang tercela atau akhlak yang jahat (qabilah) yang menurut istilah Imam Ghazali disebut muhlikat artinya segala sesuatu yang membinasakan dan mencelakakan.[18]
                        Setiap kegiatan hendaknya dilandaskan kepada unsur dasar, demikian pula halnya dengan akhlak, maka harus mempunyai dasar, adapun yang menjadi dasar akhlak adalah firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 21:
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ  ( الاحزاب  21 ).

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.[19]

1. Ciri-ciri Akhlakul Karimah
            Manusia memiliki tiga dimensi yaitu akal, badan dan ruh. Ketiga dimensi itu tidak dapat di pisah-pisahkan atau berfungsi masing-masing, akan tetapi ketiganya saling berhungan dalam segala aktivitas kehidupan. Islam tidak hanya mengakui keberadaan tiga dimensi pokok dalam watak Manusia begitu saja akan tetapi Islam memberikan bimbingan agar ketiga dimensi itu dapat berfungsi dan berjalan sesuai dengan versi .
            Dengan adanya saling keterkaitan di antara ketiga dimensi tersebut di atas akan tumbuh dalam setiap jiwa pribadi  tenaga-tenaga jiwa yang melahirkan mulia yang sesuai dengan sistem nilai kebenaran wahyu dan hadits Nabi. Seseorang akan bahagia dunia akhirat manakala dalam kehidupannya mencerminkan sikap-sikap tersebut di bawah ini :
  1. Ikhlas
  2. Islah
  3. Ihsan
  4. Mahabbah
  5. Tawakkal

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlakul Karimah
            Dengan akal Manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk tetapi akal bukanlah satu-satunya penentu kebenaran, jikalau Manusia hanya mengandalkan pada kekuatan dan kemampuan akal fikirannya saja maka Manusia itu akan terjerumus kepada tindakan yang salah. Tidak sedikit suatu permasalahan yang timbul di putuskan melalui pertimbangan akal, akan tetapi keliru dan tidak bisa dilaksanakan.
            Ruh adalah suatu kekuatan dalam diri yang tidak terlibat oleh indera atau akal, namun ia ada. Ruh berfungsi sebagai sarana atau media komunikasi secara langsung dengan Allah SWT sebagai dzat yang maha tinggi, maha suci, dan segala sifat kesempurnaannya, meyakini ajaran wahyu tidak terjangkau oleh akal fikiran Manusia. Dalam hal pembinaan Manusia ini terdapat beberapa aliran yang berbeda dalam menginterpolasikannya, di- antaranya adalah :
  1. Aliran Nativisme yang di pelopori oleh Schopenhauer dari Jerman, berpendapat bahwa kepribadian Manusia itu di tentukan sepenuhnya oleh faktor pembawaan (intern) sejak ia lahir, kalau pembawaannya baik maka ia akan baik pribadinya dan begitu sebaliknya apabila pembawaannya jelek maka kepribadiannya akan jelek pula.
  2. Aliran Empirisme yang di pelopori oleh Jhon Locke, dengan teorinya tabularasa, berpendapat bahwa kepribadian Manusia itu terbentuk sepenuhnya dengan pembinaan (pendidikan).
  3. Aliran Konvergensi yang di pelopori oleh Wiliam Stern, berpendapat bahwa terbentuknya kepribadian Manusia itu di tentukan oleh dua faktor yaitu pembinaan dan pendidikan atau faktor intern dan faktor ekstern.[20]

Yang di maksud dengan faktor intern adalah yang menyangkut tentang fisik, mental, emosi dan segala yang mencakup dengan individu itu sendiri. Sedangkan yang di maksud faktor ekstern adalah menyangkut tentang pengalaman, baik pengalaman yang langsung ataupun yang tidak langsung. Sebab hubungan individu dengan lingkungan tidak dapat di pisahkan dari kehidupan Manusia di mana dan kapan saja. Hal ini karena watak seseOrang sedikit banyak terdiri atas tingkah laku yang di hasilkan dari terjadinya interaksi bersama-sama dengan Orang lain yang sering memperlihatkan kepribadiannya masing-masing.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

C.    Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah:
a.       Menyusun data yang ada relevansinya dengan permasalahan di atas
b.      Mendeskrisikan shalat dan pengaruhnya dalam membentuk kepribadian Muslim.

D.    Sumber Data
Pengumpulan sumber data dalam penelitian ini dapat di bagi menjadi 2 macam yaitu:
a.       Sumber Primer
Adalah sumber pokok, misalnya sumber yang di ambil langsung dari Al-Qur’an atau Al-Hadits serta sumber utama dari penelitian seperti buku-buku tentang shalat dan kepribadian Muslim.
b.      Sumber Skunder
Merupakan sumber penunjang lainnya yang berkaitan dengan masalah-masalah di atas.

E.     Tekhnik Pengumpulan Data
Sesuai dengan penelitian yang penyusun lakukan yang bersifat diskriptif kualitatif, maka sebagaimana layaknya studi kualitatif yang mengadakan penelitian terhadap kepustakaan (library research). Maka pengumpulan datanya menggunakan metode dokumentasi.
Metode dokumentasi adalah sebagai laporan tertulis dari suatu peristiwa yang isinya terdiri atas penjelasan dan pemikiran-pemikiran atas peristiwa itu dan ditulis dengan sengaja untuk penyimpanan atau menemukan keterangan mengenai peristiwa itu.[21] Atau juga dapat dikatakan metode dokumentasi adalah mencari data berupa catatan, transkip, buku-buku, surat kabar, agenda, dan sebagainya.
Dalam metode dokumentasi ini ada dua macam, yaitu dokumentasi primer. Yaitu sumber utama dari penelitian seperti buku-buku tentang shalat. Sedangkan dokumentasi skunder adalah dokumen atau buku-buku yang menunjang terkumpulnya data penelitian sebagaimana tersebut di atas.

F.     Tekhnik Pemeriksaan Keabsahan Data
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, karena ia menitik beratkan pada segi nilai (values) yang terdapat dalam shalat khususnya tentang pengaruh shalat dalam membentuk kepribadian Muslim.
Hermawan Wasito mengatakan bahwa ”Riset diskriptif itu hanya terbatas pada segala usaha mengungkapkan suatu masalah sebagaimana adanya sehingga hanya sekedar pengungkapan fakta”.[22] Beni Ahmad Saibani mengungkapkan juga bahwa dalam menggunakan metode deskriptif, pengumpulan data di laksanakan dengan melakukan seleksitas data dan penentuan data di anggap representatif secara oprasional.[23] Adapun jenis penelitian ini adalah riset kualitatif. Riset kualitatif adalah penelitian yang tidak mengadakan perhitungan.
Mengacu pada pendapat di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa yang di maksud riset diskriptif kualitatif adalah penelitian yang berusaha melihat makna-makna yang terkandung di balik objek penelitian.

G.    Metode Analisis dan Penafsiran Data
Metode yang di gunakan adalah analisa data diskriptif kualitatif yang cenderung menggunakan sistem berfikir untuk menemukan makna-makna dari data yang ada, kemudian untuk menarik kesimpulan secara general penyusun menggunakan tata berfikir deduksi dan induksi.
Sutrisno Hadi mengatakan “Deduksi adalah apa saja yang dipandang benar dari suatu peristiwa sebagai sesuatu yang benar pada semua peristiwa yang termasuk dalam peristiwa itu”.[24] Lebih jauh lagi ia mengatakan bahwa “Induksi adalah cara berfikir yang berangkat dari fakta-fakta atau peristiwa itu ditarik generalisasinya yang mempunyai sifat umum menjadi khusus agar lebih mudah difaham”.[25]
DAFTAR PUSTAKA

Abu Laits As Samarqandi, Terjemah Tanbihul Ghafilin, PT. Karya Toha Putra, Semarang, 2005.

Ahmad Syafi’i, Pengantar Shalat yang Khusyu’, Remaja Rosda Karya, Bandung, 1991.

Aliy As’ad, Fathul Mu’in, Jilid ke I, Menara Kudus, Yogyakarta, 1976.

Al-‘Awaisyah Husain bin ‘Audah, Shalat khusyu’ Memupuk Suburkan Iman dan Menyucikan Jiwa, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta, 2006.

Al-Ghozali Imam Abu Hamid Penterjemah M. Fadlil Sa’ad An-Nadwi, Tuntunan Mencapai Hidayah Ilahi, Al-Hidayah, Surabaya, 1418 H.

Al-Staibani Al-Toumy Omar Muhammad, Filsafat Pendidikan Islam, Alih Bahasa Hasan Langgulung, Bulan Bintang, Jakarta 1979.

An-Nawawi, Imam Abu Zakaria Yahya Bin Syarif, Terjemah Riyadhus Shalihin, Bandung, Al-Ma’arif, 1984.

AN. Ubaedy, Quantum Tahajud, Grafindo Khazanah Ilmu, Jakarta Selatan, 2007.

Asmaran AS, Pengantar Studi Akhlak, Rajawali Fera, Jakarta, 1992

Bahri Ghazali, Konsep Ilmu Menurut Al-Ghazali, Cet ke-2, Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 1996.

Beni Ahmad Saebani, Metode Penelitian, Pustaka Setia, Bandung, 2008.

Departeman Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Semarang, CV Penerbit J-Art, 2007.

Hamzah Ya’qub, Etika Islam, Diponegoro, Bandung, 1994.

Irwan Prayyitno, Kepribadian Muslim, Pustaka Tarbaituna, Jakarta, 2005.

Muhammad Dalyono, Psikologi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 2009.

Nahjudin, Membina Akhlak Anak, Al-Ikhlas, Surabaya, 1995.

Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, Cetakan ke-38, Sinar Baru AL-Gensindo, Yogyakarta, 2005.

Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Rajawali Press, Jakarta, 1990.

Syaikh Jalal Muhammad Syafi’i, The Power Of Shalat, MQ Publising, Bandung, 2006.

Tim Penyusun Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1990.

Tim Penyusn MHM, Buku Panduan Praktek ‘Ubudiyah, Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri Jawa Timur, 2007.

Zahara Maskamah dan Tayar Yusuf, Memberikan Ketentraman Batin Melalui Akhlak, Etika Agama, Jakarta, 1996.

OUT LINE
SHALAT DAN PENGARUHNYA
DALAM MEMBENTUK AKHLAKUL KARIMAH
(Suatu Tinjauan Kependidikan)

HALAMAN SAMPUL DEPAN
HALAMAN JUDUL
HALAMAN ABSTRAK
HALAMAN PERSETUJUAN
HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN ORISINILITAS PENELITIAN
HALAMAN MOTTO
HALAMAN PERSEMBAHAN
HALAMAN KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
D.    Latar Belakang Masalah
E.     Fokus Penelitian
F.      Tujuan dan Manfaat Penelitian
G.    Metode Penelitian
H.    Telaah Pustaka
BAB II.  SHALAT DAN ASPEK-ASPEKNYA
3.      Pengertian Shalat
4.      Dasar dan Tujuan Shalat
5.      Syarat dan Rukun Shalat Fardlu
6.      Waktu Pelaksanaan Shalat Fardlu
7.      Gerakan dan Bacaan Shalat
8.      Hikmah Shalat
BAB III.  AKHLAKUL KARIMAH
A.    Pengertian Akhlakul Karimah
B.     Ciri-ciri Akhlakul Karimah
C.     Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlakul Karimah
BAB IV.  PENGARUH SHALAT FARDHU TERHADAP PEMBENTUKAN   AKHLAKUL KARIMAH DI TINJAU DARI ASPEK KEPENDIDIKAN
BAB V.   SIMPULAN DAN SARAN
A.    Simpulan
B.     Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP









[1] Abu Laits As Samarqandi, Terjemah Tanbihul Ghafilin, (Semarang , PT. Karya Toha Putra, 2005), h. 449.
[2] Departeman Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang, CV Penerbit J-Art, 2007), h. 401
[3] Abu Laits As-Samarqandi, Op. Cit, h. 360
[4] Departeman Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang, CV Penerbit J-Art, 2007), h 203
[5] Aliy As’ad, Fathul Mu’in, Jilid ke I, (Yogyakarta, Menara Kudus, 1976), h. 9
[6] Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam Cetakan ke-38, (Yogyakarta, Sinar Baru AL-Gensindo, 2005), h. 53
[7] Departemen Agama. RI Op. Cit, h. 7
[8] I b i d, h. 401
[9] I b i d, h. 39
[10] Aliy As’ad, Op. Cit, h. 17
[11] Sulaiman Rasyid, Op. Cit, h. 68
[12] I b i d, h. 29
[13] Departemen Agama. RI Op. Cit, h. 95
[14] Hamzah Ya’qub, Etika Islam, (Bandung, Diponegoro, 1994), h. 11
[15] Zahara Maskamah dan Tayar Yusuf, Memberikan Ketentraman Batin Melalui Akhlak, (Jakarta, Etika Agama, 1996), h.9
[16] Omar Muhammad Al-Toumy Al-Staibani, Filsafat Pendidikan Islam, Alih Bahasa Hasan Langgulung, (Jakarta, Bulan Bintang,  1979), h. 130
[17] Nahjudin, Membina Akhlak Anak, (Surabaya, Al-Ikhlas, 1995), h. 27
[18] Hamzah Ya’qub, Op. Cit, h. 95
[19] Departemen Agama, Op. Cit, h. 420
[20] Muhammad Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta, Rineka Cipta, 2009), h. 105
[21] Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar Metode Tekhnik, (Bandung, Tarsito, 1990), h.134
[22] Hermawan Wasito, Pengantar Metodologi Penelitian, (Jakarta, Gramedia, 1992), h. 10
[23] Beni Ahmad Saibani, Metode Penelitian, (Bandung, Pustaka Setia), 2008, h. 94
[24] Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Yogyakarta, Yayasan Fakultas Psikologi UGM, Cetakan ke-17, Jilid I, 1995), h. 36
[25] Ibid, h. 42

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AMPUN KESUPEN KRITIK DAN SARANNYA...